Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat
hidup tanpa bantuan orang lain serta bergantung
pada lingkungan dimana mereka berada. Manusia
berhubungan dengan lingkungannya di pengaruhi
oleh pola kebudayaan yang dimilikinya. Dalam
merubah lingkungannya manusia menggunakan
kemampuannya agar dapat melangsungkan
kehidupannya. Kebudayaan merupakan serangkaian
aturan-aturan atau strategi-strategi yang digunakan
manusia dalam menghadapi lingkungannya dgn cara
yang berbeda - beda, tergantung dari karakter
manusia itu sendiri serta keadaan lingkungannya,
baik dari segi cuaca maupun letak geografisnya.
Kebudayaan merupakan warisan sosial yang dimiliki
oleh setiap masyarakat. masyarakat mematuhi norma
norma serta menjunjung tinggi nilai-nilai yang menjadi
aturan pada suatu daerah tertentu, baik masyarakat yang berada diperkotaan maupun yang ada di pedesaan.
Masyarakat pedesaan memiliki kebiasaan tersendiri yang masih turun-temurun dilakukan dan sudah tidak dijumpai lagi pada
masyarakat perkotaan yaitu pelaksanaan upacara tradisional. Upacara tradisional merupakan kegiatan sosial yang melibatkan
warga masyarakat tertentu dalam mencapai tujuan bersama dan berusaha melestarikan kehidupannya baik hubungan kepada
sesama manusia dalam lingkungannya maupun kepada hal-hal yang dianggap gaib.
Upacara tradisional dapat mempererat solidaritas warga masyarakat dalam melestarikan aturan-aturan yang sudah menjadi
pranata sosia l dan mengatur tingkah laku agar tidak menyimpang dari kebiasaan yang berlaku pada suatu lingkungan
masyarakat. Upacara tradisional memiliki simbol-simbol yang merupakan suatu alat yang dipakai sebagai penghubung antara
dunia nyata dan dunia gaib.
Penyelenggaraan upacara tradisional dilakukan pada waktu-waktu tertentu guna mewariskan kebiasaan para leluhur sebagai
usaha untuk meneruskan pengalaman spiritual yang bertujuan untuk memberikan ketenangan, kebersamaan serta solidaritas
dalam mengarungi kehidupan. Masyarakat Je,ne Taesa dan sekitarnya merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan
Simbang Kabupaten Maros. Kecamatan Simbang dulunya merupakan wilayah Kecamatan Bantimurung dan pada tahun 2000
dimekarkan menjadi Kecamatan Simbang. Letaknya berada di sebelah timur kota Maros atau kurang lebih 12 km kearah jalan
poros Kabupaten Bone. Desa je,ne taesa dihuni kurang lebih 650 kepala keluarga atau penduduknya berjumlah sekitar 2000
0rang terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Bantimurung, Batu Bassi dan Parang Tinggia.
Desa je,ne taesa adalah satu desa yang sebagian
besar menggantungkan hidupnya dari bercocok
tanam. Sumber pendapatan utamanya adalah padi
dan palawija. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa
bugis / Makassar dan 99 persen menganut Agama
Islam. Kata Je’ne Taesa sendiri memiliki arti Je’ne
berarti air dan Taesa berarti tidak habis atau tidak
berkurang. Kata ini di ambil dari Air yg mengalir pada
taman wisata Bantimurung yang dianggap tidak akan
habis walaupun musim kemarau panjang.
Dari tiga Dusun yang ada di Desa je’ne Taesa, salah
satu diantaranya yakni Dusun Batu Bassi memiliki ciri
khas tersendiri dibandingkan dengan dusun lainnya
di Kecamatan Simbang. Masyarakat Batu Bassi sangat
menjujung tinggi budaya adat dan sampai sekarang ini
masih dipertahankan. Tradisi yang dimaksud adalah
penggunaan gendang adat pada pelaksanaan pesta perkawinan. Walaupun sudah menjadi tradisi, akan tetapi masyarakat
Batu Bassi tidak semuanya diperbolehkan menggunakan gendang apabila pada pelaksanaan pesta perkawinan tdk menyembelih
kerbau. Gendang merupakan simbol pada pesta pest perkawinan. Suara gendang yang mengalun menandakan bahwa pada
pelaksanaan pesta perkawinan dilakukan dgn menyembelih seekor kerbau. Aturan tersebut sampai sekarang masih dirlakukan
dan hampir tidak ada yang berani melanggarnya.
Sesuai dengan tugas kuliah kajian hasil karya seni rupa lokal, maka penulis membatasi materi tentang budaya masyarakat Dusun
Batu Bassi secara lebih mendalam, akan tetapi penulis mencoba membahas salah satu hasil karya seni rupa yang dipergunakan
sebagai alat bantu pada pelaksanaan upacara adat pesta perkawinan, Upacara Appanaung rije’ne, upacara Tammu taung dan
sebagainya, yaitu Gendang Adat. Orang batu bassi biasa menyebutnya Ganrang adat tunrung Tallua, kata “tunrung
tallua” merupakan istilah teknik memukul gendang yang menjadi ciri khas masyarakat Batu Bassi yang membedakan dengan
daerah lain.
Menurut informasi yang penulis dapatkan dari salah seorang tokoh
masyarakat yang berasal dari dusun Batu Bassi dan sekarang bermukim
di sambueja sekaligus pengrajin gendang adat yakni Dg. Baso. Beliau
mengatakan bahwa asal usul gendang yg digunakan di Batu Bassi dan
sekitarnya berasal dari daerah Bone. Masa waktu kejadiannya
diperkirakan sejak ratusan tahun yang lalu. Cerita ini dapat pula
dihubungkan dengan dengan sumber informasi lainnya yg mengatakan
bahwa Desa Je’ne taesa dan sekitarnya pada jaman dulu merupakan
jalur perjalanan dan merupakan pula tempat persinggahan yang
menghubungkan kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa, maka terjadilah
pembauran budaya, disamping itu ada pula beberapa warga Dusun Batu
Bassi yang leluhurnya memang berasal dari daerah Bone. Oleh karena
aturan adat yang sangat ketat akhirnya sampai sekarang pembuatan
serta penggunaan gendang pada pelaksanaan upacara adat di Dusun
Batu Bassi masih tetap bisa di lestarikan.
Alat yang digunakan pada proses pembuatan gendang adat tunrung
tallua di Dusun Batu Bassi Desa Je’ne Taesa Kecamatan Simbang
Kabupaten Maros adalah parang, pisau, gergaji, amplas, pahat, palu dll.
Bahan yang digunakan adalah berupa kayu pilihan misalnya kayu jati,
cendana warga Batu Bassi menyebutnya kayu Patte’ne dan jenis kayu
lainnya yang dianggap kategori kayu keras. Menurut Dg. Baso, kayu yang paling baik digunakan adalah kayu Pa’tene, disamping
jenis kayunya keras, suara yang dihasilkan sangat nyaring dan berbeda jika menggunakan jenis kayu yang lain. disamping itu
dibutuhkan pula bahan pelengkap dalam proses pembuatan seperti, rotan, kulit kambing, tali dan cincin dari logam.
Teknik pembuatan gendang adat di Dusun Batu Bassi Kecamatan Simbang Kabupaten Maros di mulai dengan pemilihan kayu yg
akan digunakan, selanjutnya kayu ditebang dan dibiarkan tergeletak sampai kering,sebaiknya terhindar dari terik matahari. Cara
ini dilakukan untuk menghindari terjadinya retakan pada kayu saat dipotong. Setelah dianggap sudah kering, maka mulailah
memotong kayu gelondongan sesuai ukuran panjang yang didinginkan, dan potongan kayu tersebut benar-benar dipilih yang
utuh agar supaya dalam proses pembuatan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti retak, pecah dan lain-lain. Hindari
bagian kayu yang kena mata kayu atau ada bekas cabang atau ranting.
Sebelum memulai pemahatan maka terlebih dahulu sang pengrajin membaca doa atau mantra agar pada proses pembuatan dpt
berjalan lancar dan tidak mendapat hambatan. Pembuatan gendang dilakukan dengan teknik pahat. Menurut Dg. Baso sebagai
pengrajin gendang yg biasa melayani pesanan, proses pemahatan dilakukan dengan dengan cara manual yaitu memahat sedikit
demi sedikit dengan penuh kehati-hatian dengan mempergunakan alat seadanya berupa pahat, palu, parang, dan pisau.
Dibutuhkan waktu sekitar tujuh sampai sepuluh hari untuk menyelesaikan sebuah gendang dgn menggunakan waktu jam kerja
dari pagi sampai sore hari. Karena pekerjaan membuat gendang hanya dilakukan pada sore hari setelah melakukan pekerjaan
lainnya disawah atau dikebun, maka untuk menyelesaikan sebuah gendang, maka dg. Baso mengaku membutuhkan waktu sekitar
satu bulan. Ketebalan hasil pemahatan tergantung jenis kayu yang digunakan. Semakin keras kayu yg digunakan maka peluang
untuk lebih menipiskan hasil pahatan semakin besar. Ini dilakukan untuk mencapai suara yg diinginkan. semakin tipis hasil pahatan
maka semakin bagus pula suara yang dihasilkan. Jenis kayu Cendana atau orang Batu Bassi menyebutnya Patte’ne bisa dipahat
sampai ketebalan 5-7 mm, sedangkan kayu jati dipahat dikisaran 7mm-1cm. Panjang gendang disesuaikan dengan permintaan,
untuk gendang besar panjangnya sekitar 60-80 cm, sedangkan gendang kecil panjangnya sekitar 40-55 cm. Diameter untuk
sebuah gendang besar berkisar antara 28-34 cm, sedangkan gendang kecil berdiameter sekitar 14-17 cm. Diameter kedua sisi
gendang berbeda ukurannya, bagian sisi yang dipukul dengan menggunakan kayu, lebih besar diameternya sekitar 3-6 cm
dibandingkan sisi gendang yang dipukul dengan menggunakan tangan. Demikian pula gendang kecil, ada pula perbedaan antara
kedua sisinya sekitar 2-4 cm
Setelah kayu sudah melalui proses pemahatan dan penghalusan
menggunakan pisau dan amplas, maka dilanjutkan dengan pemasangan
kulit kambing pada kedua sisi gendang. Kulit kambing yg akan digunakan
terlebih dahulu melalui proses pengolahan dengan cara menjemur kulit
kambing sampai kering, setelah kulit kambing sudah benar-benar kering,
maka dilanjutkan dengan mengeruk bulu kambing hingga bersih dengan
menggunakan pisau atau pecah beling. Setelah dinggap layak untuk
digunakan, maka diukurlah kulit kambing berdasarkan diameter gendang.
Kulit kambing jantan dipasang disebelah kanan gendang atau bagian sisi
gendang yg dipukul dgn menggunakan kayu, sementara kulit kambing
betina, dipasang disebelah kiri gendang, atau bagian sisi gendang yang
dipukul dgn menggunakan tangan. Menurut Dg. Baso, Alasan sehingga
kulit kambing jantan dipasang dikanan karena bagian ini di anggap
memerlukan kulit yg agak tebal agar saat dipukul dengan menggunakan
kayu tidak mudah rusak atau bocor, disamping itu memiliki pula arti
simbolik yang berarti laki-laki, sedangkan sebelah kiri dipasangi kulit
kambing betina diartikan sebagai perempuan.
Setelah melalui proses pengukuran berdasarkan diameter gendang,
maka kulit kambing dililitkan pada salah satu jenis rotan berdimeter kecil
dan atasnya di berikan penahan lilitan dari rotan pula. Fungsi dari lilitan
kedua sebagai penarik untuk peyetem suara pada gendang kalau sewaktu-sewaktu suara gendang berubah yg disebabkan oleh
pengaruh suhu atau cuaca.
Setelah gendang sudah dipasangi kulit kambing maka dilanjutkan pemasangan cincin kawat yang berfungsi sebagai stem (setelan)
pada gendang, semakin ketengah posisi cincin kawat maka suara yang dihasilkan semakin nyaring. Dan dibagian akhir proses
pembuatan gendang adat tunrung tallua Batu Bassi, di buatlah sebuah lubang khusus berdiameter kurang lebih 1 cm yg berfungsi
sebagai tempat udara keluar saat gendang dipukul. Ini dilakukan agar gendang tidak mudah retak atau pecah. Harga jual untuk
satu pasang gendang kecil dan sepasang gendang besar berkisar antara 2 juta sampai 2,5 j uta tergantung jenis kayu yang
digunakan. Pemukul gendang yg digunakan harus pula memilih jenis kayu yang kuat, atau tidak mudah patah atau retak, menurut
Dg. Baso, jenis kayu yang bagus adalah jenis kayu asam, jeruk atau batang jambu biji.
Masyarakat Desa Je’ne Taesa dan sekitarnya menggunakan gendang adat tunrung Tallua pada upacara adat seperti Pesta
Pernikahan, Upacara penghormatan kepada para leluhur yang konon kabarnya ada yg berada di sungai atau di air, masyarakat
Batu Bassi dan sekitarnya menyebutnya upacara Appanaung ri je’ne. serta Upacara meminta doa kepada sang pencipta agar
pada saat memulai mengerjakan sawah, dapat diberikan kesehatan dan mendapatkan hasil panen sesuai apa yg diharapkan.
Masyarakat sambueja yg berdomisili di sekitar Batu Bassi menyebutnya Upacara Tammu taung
Penggunaan gendang adat tunrung tallua di Batu Bassi dan sekitarnya pada upacara adat memiliki tujuan tersendiri. Di samping
sebagai hiburan, dapat pula memberikan makna simbolik bagi yg menggunakannya. Suara gendang di Batu Bassi menandakan
bahwa hajatan yg dilakukan dipastikan menyembelih seekor kerbau. penggunaan gendang merupakan wadah atau sarana untuk
memudahkan hubungan kepada dunia sang penguasa alam. Masyarakat Batu Bassi dan sekitarnya menyebutnya“ patanna
pa’rasangang” agar pada pelaksanaan hajatan dapat berjalan lancar dan tidak mendapat hambatan sampai berakhirnya acara.