Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 06 Februari 2014

Adat dan Budaya Masyarakat Simbang



                                 Ganrang Tunrung Tallua


Manusia  merupakan  makhluk sosial yang tidak dapat 
hidup  tanpa  bantuan  orang  lain  serta  bergantung
pada   lingkungan  dimana  mereka  berada.  Manusia 
berhubungan   dengan   lingkungannya  di  pengaruhi 
oleh   pola    kebudayaan   yang    dimilikinya.   Dalam
merubah    lingkungannya    manusia     menggunakan 
kemampuannya      agar      dapat       melangsungkan 
kehidupannya. Kebudayaan  merupakan  serangkaian  
aturan-aturan atau strategi-strategi yang  digunakan
manusia dalam  menghadapi  lingkungannya dgn cara 
yang   berbeda - beda,    tergantung   dari    karakter 
manusia  itu  sendiri   serta  keadaan   lingkungannya, 
baik   dari  segi  cuaca   maupun   letak  geografisnya. 
Kebudayaan  merupakan warisan  sosial  yang  dimiliki
oleh setiap masyarakat. masyarakat mematuhi norma
norma serta menjunjung tinggi nilai-nilai yang menjadi 
aturan pada suatu daerah tertentu, baik masyarakat yang berada diperkotaan maupun yang ada di pedesaan.
Masyarakat  pedesaan memiliki kebiasaan  tersendiri yang  masih turun-temurun  dilakukan  dan sudah tidak  dijumpai lagi pada 
masyarakat perkotaan yaitu pelaksanaan upacara tradisional. Upacara tradisional merupakan  kegiatan sosial yang  melibatkan
warga masyarakat tertentu dalam mencapai tujuan bersama dan  berusaha melestarikan kehidupannya  baik hubungan kepada
sesama manusia dalam lingkungannya maupun kepada hal-hal yang dianggap gaib.
Upacara tradisional  dapat  mempererat  solidaritas  warga  masyarakat  dalam melestarikan aturan-aturan yang sudah menjadi
pranata  sosia l dan  mengatur  tingkah  laku  agar tidak  menyimpang   dari  kebiasaan  yang  berlaku  pada  suatu   lingkungan 
masyarakat. Upacara tradisional memiliki simbol-simbol yang merupakan  suatu alat  yang dipakai  sebagai  penghubung  antara 
dunia nyata dan dunia gaib.       
Penyelenggaraan upacara tradisional dilakukan pada waktu-waktu tertentu guna  mewariskan  kebiasaan para  leluhur  sebagai 
usaha untuk meneruskan pengalaman spiritual yang  bertujuan untuk memberikan  ketenangan, kebersamaan  serta  solidaritas
dalam mengarungi kehidupan. Masyarakat Je,ne Taesa dan sekitarnya  merupakan  sebuah  desa  yang  terletak  di Kecamatan 
Simbang Kabupaten Maros.  Kecamatan  Simbang  dulunya  merupakan  wilayah  Kecamatan Bantimurung dan pada tahun 2000 
dimekarkan menjadi Kecamatan Simbang.  Letaknya berada di sebelah timur kota Maros atau  kurang  lebih 12 km  kearah  jalan 
poros Kabupaten Bone. Desa je,ne taesa dihuni kurang lebih 650  kepala keluarga atau  penduduknya  berjumlah  sekitar  2000 
0rang terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Bantimurung, Batu Bassi dan Parang Tinggia. 
Desa  je,ne  taesa adalah  satu  desa  yang  sebagian 
besar   menggantungkan    hidupnya    dari    bercocok
tanam. Sumber  pendapatan  utamanya  adalah   padi  
dan palawija. Bahasa yang digunakan  adalah  Bahasa
bugis / Makassar  dan  99   persen  menganut   Agama
Islam.  Kata Je’ne  Taesa  sendiri  memiliki  arti   Je’ne 
berarti  air dan Taesa  berarti  tidak  habis  atau tidak 
berkurang.  Kata ini di ambil  dari Air yg  mengalir pada 
taman  wisata  Bantimurung yang dianggap tidak akan 
habis walaupun musim kemarau panjang.
Dari tiga  Dusun  yang  ada  di Desa je’ne Taesa, salah 
satu  diantaranya  yakni  Dusun Batu Bassi  memiliki ciri
khas  tersendiri   dibandingkan  dengan  dusun  lainnya
di Kecamatan Simbang. Masyarakat Batu Bassi  sangat
menjujung tinggi budaya adat dan sampai sekarang ini
masih  dipertahankan. Tradisi  yang  dimaksud   adalah
penggunaan gendang adat  pada pelaksanaan pesta perkawinan.  Walaupun sudah menjadi  tradisi, akan  tetapi  masyarakat 
Batu Bassi tidak semuanya diperbolehkan menggunakan gendang  apabila pada pelaksanaan pesta perkawinan tdk menyembelih
kerbau. Gendang merupakan simbol pada pesta pest   perkawinan. Suara  gendang yang  mengalun  menandakan  bahwa  pada
pelaksanaan pesta perkawinan dilakukan dgn menyembelih  seekor kerbau. Aturan tersebut  sampai sekarang  masih  dirlakukan 
dan hampir tidak ada yang berani melanggarnya.
Sesuai dengan tugas kuliah kajian hasil karya seni rupa lokal, maka penulis membatasi materi tentang budaya masyarakat Dusun 
Batu Bassi secara lebih mendalam, akan tetapi penulis mencoba  membahas salah satu hasil karya  seni rupa yang  dipergunakan 
sebagai alat bantu pada pelaksanaan upacara adat pesta  perkawinan, Upacara  Appanaung rije’neupacara Tammu taung  dan 
sebagainya,  yaitu Gendang Adat. Orang batu  bassi  biasa  menyebutnya  Ganrang  adat  tunrung Tallua,  kata “tunrung 
tallua” merupakan istilah teknik  memukul gendang yang  menjadi ciri  khas masyarakat  Batu Bassi  yang  membedakan  dengan 
daerah lain.             
             
Menurut   informasi   yang   penulis  dapatkan  dari salah seorang tokoh
masyarakat yang berasal dari dusun Batu Bassi dan sekarang bermukim 
di sambueja  sekaligus  pengrajin  gendang  adat yakni Dg. Baso. Beliau
mengatakan bahwa  asal usul  gendang yg digunakan di  Batu Bassi dan
sekitarnya     berasal    dari   daerah   Bone. Masa   waktu   kejadiannya
diperkirakan  sejak  ratusan  tahun  yang   lalu.  Cerita  ini   dapat   pula 
dihubungkan dengan dengan sumber informasi  lainnya yg  mengatakan
bahwa  Desa Je’ne taesa dan  sekitarnya pada  jaman  dulu  merupakan 
jalur   perjalanan   dan   merupakan  pula  tempat   persinggahan   yang 
menghubungkan kerajaan  Bone  dan  Kerajaan Gowa,  maka  terjadilah
pembauran budaya, disamping itu ada pula beberapa warga Dusun Batu 
Bassi yang leluhurnya memang berasal dari  daerah  Bone. Oleh  karena
aturan adat yang sangat ketat  akhirnya  sampai  sekarang  pembuatan 
serta penggunaan  gendang pada  pelaksanaan  upacara adat di Dusun 
Batu Bassi masih tetap bisa di lestarikan.      
Alat yang digunakan  pada  proses  pembuatan  gendang  adat tunrung 
tallua   di  Dusun  Batu  Bassi  Desa  Je’ne  Taesa   Kecamatan   Simbang 
Kabupaten Maros adalah parang, pisau, gergaji, amplas, pahat, palu dll.
Bahan yang  digunakan adalah  berupa  kayu  pilihan  misalnya kayu jati,
cendana warga  Batu Bassi menyebutnya  kayu  Patte’ne dan jenis kayu 
lainnya yang dianggap kategori kayu keras. Menurut Dg. Baso, kayu yang paling baik digunakan adalah kayu Pa’tene,  disamping 
jenis kayunya keras, suara yang dihasilkan sangat nyaring dan berbeda  jika  menggunakan  jenis  kayu  yang lain. disamping  itu 
dibutuhkan pula bahan pelengkap dalam proses pembuatan seperti,  rotan, kulit kambing, tali dan cincin dari logam.                                  
Teknik pembuatan gendang adat di Dusun Batu Bassi Kecamatan Simbang  Kabupaten Maros  di mulai  dengan  pemilihan kayu yg
akan digunakan, selanjutnya kayu ditebang dan dibiarkan tergeletak sampai kering,sebaiknya terhindar dari terik matahari. Cara
ini dilakukan untuk menghindari terjadinya retakan pada  kayu  saat  dipotong.  Setelah  dianggap  sudah  kering,  maka  mulailah 
memotong kayu gelondongan  sesuai ukuran  panjang yang  didinginkan, dan  potongan kayu  tersebut  benar-benar dipilih yang 
utuh agar supaya dalam proses pembuatan tidak  terjadi  hal  yang  tidak  diinginkan  seperti  retak, pecah  dan  lain-lain. Hindari
bagian kayu yang kena mata kayu atau ada bekas cabang atau ranting. 

Sebelum memulai pemahatan maka terlebih dahulu sang pengrajin membaca doa atau mantra agar  pada  proses  pembuatan dpt
berjalan lancar dan tidak mendapat hambatan. Pembuatan gendang dilakukan  dengan teknik  pahat. Menurut Dg. Baso  sebagai 
pengrajin gendang yg biasa melayani pesanan, proses pemahatan dilakukan dengan dengan cara  manual  yaitu memahat sedikit 
demi sedikit dengan penuh kehati-hatian dengan mempergunakan alat seadanya berupa pahat, palu, parang, dan pisau. 
Dibutuhkan waktu sekitar tujuh sampai sepuluh  hari untuk  menyelesaikan  sebuah gendang  dgn  menggunakan waktu jam kerja
dari pagi sampai sore hari. Karena pekerjaan membuat gendang  hanya  dilakukan  pada  sore hari setelah  melakukan  pekerjaan
lainnya disawah atau dikebun, maka untuk menyelesaikan sebuah gendang, maka dg. Baso mengaku membutuhkan waktu sekitar 
satu bulan. Ketebalan hasil pemahatan tergantung jenis kayu  yang  digunakan. Semakin keras kayu yg digunakan maka peluang 
untuk lebih menipiskan hasil pahatan semakin besar. Ini dilakukan untuk mencapai suara yg diinginkan. semakin tipis hasil pahatan 
maka semakin bagus pula suara yang dihasilkan. Jenis kayu Cendana atau orang Batu Bassi menyebutnya  Patte’ne  bisa dipahat 
sampai ketebalan 5-7 mm, sedangkan  kayu jati  dipahat dikisaran 7mm-1cm. Panjang  gendang  disesuaikan dengan  permintaan, 
untuk  gendang  besar  panjangnya  sekitar 60-80 cm, sedangkan gendang  kecil  panjangnya  sekitar  40-55 cm. Diameter untuk 
sebuah gendang besar berkisar antara 28-34 cm, sedangkan  gendang  kecil  berdiameter  sekitar 14-17 cm. Diameter  kedua sisi 
gendang  berbeda  ukurannya,  bagian  sisi  yang  dipukul  dengan  menggunakan  kayu, lebih  besar diameternya  sekitar 3-6 cm 
dibandingkan sisi gendang yang dipukul dengan menggunakan tangan. Demikian pula gendang kecil, ada pula  perbedaan  antara 
kedua  sisinya sekitar 2-4 cm  
Setelah    kayu   sudah   melalui   proses  pemahatan   dan  penghalusan
menggunakan pisau dan amplas, maka dilanjutkan dengan  pemasangan 
kulit kambing pada kedua sisi gendang. Kulit kambing yg akan digunakan
terlebih dahulu melalui  proses pengolahan dengan cara  menjemur  kulit
kambing sampai kering, setelah kulit kambing sudah benar-benar  kering, 
maka dilanjutkan dengan mengeruk bulu kambing hingga  bersih  dengan
menggunakan  pisau  atau  pecah  beling. Setelah  dinggap  layak  untuk 
digunakan, maka diukurlah kulit kambing berdasarkan diameter gendang.
Kulit kambing jantan dipasang disebelah kanan gendang atau bagian sisi 
gendang yg dipukul dgn menggunakan  kayu,  sementara  kulit  kambing 
betina, dipasang disebelah kiri gendang, atau bagian sisi  gendang yang
dipukul dgn  menggunakan tangan. Menurut Dg. Baso, Alasan  sehingga 
kulit  kambing  jantan  dipasang   dikanan  karena  bagian  ini  di  anggap 
memerlukan kulit yg agak tebal agar saat dipukul dengan  menggunakan 
kayu  tidak  mudah  rusak  atau  bocor, disamping  itu  memiliki  pula  arti 
simbolik yang  berarti  laki-laki, sedangkan  sebelah   kiri   dipasangi  kulit 
kambing betina diartikan sebagai perempuan.  
Setelah  melalui  proses   pengukuran   berdasarkan  diameter  gendang, 
maka kulit kambing dililitkan pada  salah satu jenis  rotan berdimeter kecil
dan atasnya di berikan penahan  lilitan dari rotan pula. Fungsi dari  lilitan 
kedua sebagai penarik untuk peyetem  suara pada gendang kalau sewaktu-sewaktu suara gendang  berubah yg disebabkan oleh 
pengaruh suhu atau cuaca.

Setelah gendang sudah dipasangi kulit kambing maka dilanjutkan pemasangan cincin kawat yang berfungsi sebagai stem (setelan)
pada gendang, semakin ketengah posisi cincin  kawat maka  suara yang  dihasilkan  semakin nyaring. Dan  dibagian  akhir  proses 
pembuatan gendang adat tunrung tallua Batu Bassi, di buatlah sebuah lubang khusus berdiameter kurang lebih 1 cm yg berfungsi 
sebagai tempat udara keluar saat gendang dipukul. Ini dilakukan agar gendang tidak mudah retak atau pecah.  Harga  jual  untuk
satu pasang gendang kecil dan sepasang  gendang  besar  berkisar  antara 2 juta sampai 2,5 j uta  tergantung  jenis  kayu  yang 
digunakan. Pemukul gendang yg digunakan harus pula memilih jenis kayu yang kuat, atau tidak mudah patah atau retak, menurut
Dg. Baso,   jenis  kayu yang  bagus adalah jenis kayu asam, jeruk atau batang jambu biji.       
   
Masyarakat  Desa Je’ne Taesa  dan sekitarnya  menggunakan  gendang  adat tunrung Tallua  pada  upacara  adat  seperti  Pesta
Pernikahan, Upacara penghormatan kepada para leluhur yang  konon kabarnya ada yg  berada  di sungai atau di air, masyarakat
Batu Bassi dan sekitarnya menyebutnya upacara Appanaung ri je’ne.  serta  Upacara  meminta  doa  kepada  sang pencipta  agar 
pada saat  memulai mengerjakan sawah, dapat  diberikan  kesehatan  dan  mendapatkan hasil panen  sesuai  apa yg  diharapkan.
Masyarakat  sambueja yg berdomisili di sekitar Batu Bassi  menyebutnya  Upacara Tammu taung    
Penggunaan gendang adat tunrung tallua di Batu Bassi dan sekitarnya pada upacara  adat  memiliki tujuan tersendiri. Di  samping
sebagai hiburan, dapat pula  memberikan  makna  simbolik  bagi  yg menggunakannya. Suara gendang  di Batu Bassi menandakan 
bahwa hajatan yg dilakukan dipastikan menyembelih seekor kerbau. penggunaan gendang merupakan wadah atau  sarana  untuk
 memudahkan hubungan kepada dunia sang  penguasa alam.  Masyarakat  Batu Bassi  dan  sekitarnya  menyebutnya“ patanna 
pa’rasangang”  agar pada pelaksanaan hajatan dapat berjalan lancar dan tidak mendapat hambatan sampai berakhirnya acara.    

 

Blogger news

Blogroll

About